Mengontrol Hipertensi dapat Menunda Kematian?

Mengontrol Hipertensi dapat Menunda Kematian?

Oleh: dr. Andri Rais, Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Islam Yogyakarta PDHI

Tekanan darah tinggi atau hipertensi, sering tidak disadari dan disepelekan oleh sebagian besar masyarakat. Cukup banyak pasien yang bersikeras tidak mengikuti anjuran dokter saat dijelaskan tentang penyakitnya. Pernah ada pasien yang tensinya sudah >180 mmHg, dia juga sudah sering pergi ke dokter dan diberi obat namun tidak mau diminum karena merasa tidak ada keluhan, takut ketergantungan, dan takut efek samping. Tak lama kemudian pasien ini dibawa oleh keluarganya dalam keadaan tidak sadar (stroke), dan qodarullah ia meninggal. Kita tahu bahwa tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat membahayakan berbagai organ tubuh kita, terutama yang terkait dengan pembuluh darah.

Alarm Bahaya Hipertensi

Apa saja bahaya hipertensi itu? Hipertensi dapat menyebabkan beberapa penyakit di antaranya adalah penyakit pembuluh darah arteri, stroke, kelainan jantung, gangguan fungsi ginjal, kelainan mata dan lain-lain.

Arteri merupakan pembuluh darah yang membawa nutrisi dan oksigen ke seluruh tubuh, normalnya fleksibel dan elastis. Namun jika terjadi hipertensi yang tidak terkontrol terjadi kerusakan dan penyempitan pada pembuluh darah tersebut (arteriosklerosis) sehingga berdampak pada mata (kabur), Jantung (penyakit jantung koroner atau gagal jantung), otak (stroke), ginjal (gagal ginjal), dll.

Penyakit stroke memang sangat menakutkan. Gejalanya pun bervariasi, mulai dari yang paling ringan seperti pusing dan nyeri kepala, bicara pelo, atau mendadak mengalami kelemahan sebelah sisi tubuh, wajah mencong ( tidak simetris), atau bahkan langsung meninggal. Yang lebih menakutkan, serangan stroke dapat terjadi kapanpun dan di manapun, bahkan saat tidur sekalipun.Serangan stroke ini sering disebabkan oleh hipertensi yang sangat tinggi (hipertensi emergensi). Orang yang memiliki tekanan darah yang sangat tinggi ini biasanya tekanan sistoliknya ≥ 180 mmHg (atas) atau tekanan diastolik ≥ 120 mmHg (bawah). Pasien ini harus diperiksa betul ada tidaknya komplikasi. Mereka pun harus langsung diberi obat anti hipertensi yang bekerja cepat untuk dapat menurunkan tekanan darahnya.

Hipertensi memang sering dikaitkan dengan penyakit jantung karena keduanya saling berhubungan. Pada awalnya tekanan darah tinggi akan meningkatkan beban kerja jantung sehingga terjadi pembesaran jantung. Namun, tahap itu masih belum menimbulkan gejala. Keluhan baru muncul setelah terjadi kelemahan pada pompa jantung (gagal jantung) yaitu sesak nafas, bengkak pada kedua kaki dan perut, sulit tidur karena sesak, dll.

Tekanan darah tinggi juga dapat menyebabkan kerusakan dan penyempitan pada pembuluh darah jantung sehingga terjadi serangan penyakit jantung atau penyakit jantung koroner. Keluhannya dapat berupa nyeri dada yang hebat di sebelah kiri, nyeri dapat menjalar ke leher, punggung, bahkan sampai ke lengan kiri, seringkali juga nyerinya timbul di daerah ulu hati (sering disangka hanya sakit maag biasa). Pasien seperti ini harus berobat rutin ke dokter agar komplikasinya tidak semakin lanjut.

Masalah ginjal juga kerap ditemui pada pasien dengan hipertensi lama, terutama hipertensi yang tidak terkontrol. Namun, semuanya berawal tanpa gejala. Seringkali pasien datang dengan keluhan buang air kecil berbusa, yang setelah diperiksa laboratorium, diketahui mengalami kebocoran ginjal. Hal ini ditandai dengan keluarnya protein dalam urin; molekul besar seperti protein seharusnya mampu ditapis oleh ginjal. Yang lebih menyedihkan lagi, banyak pasien hipertensi lama yang baru check-up pertama kali , tapi telah diketahui mengalami gagal ginjal kronis, hal ini terjadi pada pasien yang meremehkan darah tinggi dan tidak mau minum obat. Gejala gagal ginjal kronis ini biasanya air kemihnya menjadi sedikit, badannya pucat, dan sering bengkak pada wajah, kedua kaki dan perut. Bila gagal ginjal ini terjadi fungsi ginjal pasien tersebut harus digantikan oleh mesin hemodialisa atau mesin cuci darah yang biasanya dilakukan seumur hidup.

Tidak hanya diabetes yang menyebabkan kerusakan saraf mata, tekanan darah tinggi pun demikian. Dikenal dengan istilah retinopati hipertensif, tekanan darah yang tinggi nyatanya dapat merusak pembuluh darah kecil yang berada di dalam mata, bahkan dapat merusak saraf mata. Masalah ini bukan jarang ditemui, namun sebaliknya jarang disadari karena lagi-lagi tidak menimbulkan gejala. Kerusakan saraf mata yang semakin meluas akan berujung pada kebutaan.

Dapat Dikontrol

Masalah-masalah di atas bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti atau menghantui pasien. Sebaliknya, tekanan darah tinggi adalah suatu penyakit yang dapat dikontrol (tekanan darah kembali ke normal) dengan mengurangi konsumsi garam, diet seimbang, olahraga, dan minum obat teratur. Patut diingat, hipertensi bukan seperti penyakit batuk pilek yang satu-dua hari sembuh, namun penyakit seumur hidup yang harus dijaga atau dikontrol sehingga komplikasi-komplikasi di atas dapat kita hindari.

0 Komentar