Fenomena Gunung Es Tuberkulosis dan Bahaya Dokter Salah Diagnosa

Fenomena Gunung Es Tuberkulosis dan Bahaya Dokter Salah Diagnosa

Oleh: dr. H. Ngatwanto, Sp. P., Pulmonologist/Spesialis Paru & Pernapasan di RSIY PDHI

Gunung es, ingatan kita pasti tertuju pada Benua Antartika di Kutub Selatan. Fenomena gunung es hanyalah perumpamaan di mana puncak es yang terlihat hanya mencakup 10-20% volume gunung es, namun 80-90% dari volume gunung es yang sebenarnya berada di bawah permukaan air laut. Perumpamaan ini sangat cocok menggambarkan penyakit tuberkulosis di masyarakat Indonesia yang biasa disebut flek.

Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis complex. Bakteri TB sering juga disebut sebagai BTA (Basil Tahan Asam). Untuk mengetahui bakteri tersebut BTA positif atau negatif dilihat dengan mikroskop dari bahan dahak pasien, bisa juga dari cairan paru atau feses (tinja).

Bahaya Salah Diagnosis Dokter

Tuberkulosis (TB) masih merupakan masalah besar di Indonesia meskipun penanganan TB sudah dilakukan selama berpuluh tahun akan tetapi kasus TB seakan tidak ada habisnya. Keadaan ini antara lain karena dokter yang mengobati TB kurang tepat sasaran. Hal ini bisa kita lihat dalam menegakkan diagnosis penyakit TB hanya terbatas pada keluhan pasien. Setiap pasien yang batuk dan penurunan berat badan, langsung diberikan pengobatan TB. Padahal dalam penegakkan diagnosis penyakit TB harus mempertimbangkan parameter klinis/ gejala pasien secara detail, pemeriksaan fisik, parameter bakteriologis dan radiologis (foto ronsen). Menurut International Standard for Tuberculosis Care (ISTC), parameter bakteriologis sangat diutamakan. Caranya dengan pemeriksaan BTA dari sputum/dahak pasien.

Hasil pemeriksaan dahak pasien, bisa diketahui apakah BTA (+) atau BTA (-). Keposiifan BTA akan menentukan tingkat penularan kepada orang sehat. Biasanya dokter dalam memberikan pengobatan TB hanya berdasarkan kriteria gejala klinis pasien yang kurang lengkap atau hanya berdasarkan foto ronsen pasien. Banyak kasus kita temui, pasien-pasien yang dironsen, terlihat ada bercak-bercak putih langsung diobati dengan obat TB/obat flek. Hal ini mengakibatkan pengobatan yang tidak tepat dan berlebihan (under treatment dan over treatment). Padahal beberapa kasus pasien yang benar-benar menderita TB, justru tidak terdiagnosis dan tidak diobati.

Diagnosis yang berlebihan (overdiagnosis) juga sering terjadi pada kasus TB anak dan dewasa. Overdiagnosis sering terjadi pada teman sejawat dokter yang melakukan diagnosis TB berdasarkan test mantoux. Prinsip test Mantoux dengan menyuntikan kuman Mycobacterium tuberculosis yang sudah dilemahkan untuk melihat respons imun pasien. Respon imun akan terlihat pada pasien yang terinfeksi TB. Akan tetapi perlu kita perhatikan beberapa hal berkaitan dengan test Mantoux ini :

  1. Pasien dengan status imunitas/ketahanan tubuh rendah seperti pasien HIV, malnutrisi (gizi kurang), orang tua, hampir selalu tidak respons dengan test mantoux.
  2. Pasien anak yang belum lama mendapat imunisasi TB (BCG) saat lahir, hampir selalu memberikan test positif palsu.
  3. Negara Indonesia khususnya Yogyakarta, Jawa Tengah dan sekitarnya, secara epidemiologis merupakan endemis TB (daerah dengan tingkat infeksi TB yang tinggi). Hal ini sering terlupakan teman sejawat dokter. Seringkali banyak pasien yang gejalanya tidak khas TB, ditest mantoux (+) lantas diberikan terapi TB. Amat disayangkan dan rugi sekali kalau pasien-pasien yang sebenarnya tidak terkena TB, akan tetapi karena dasar penegakan diagnosis yang tidak tepat harus mendapat terapi TB sampai 6 bulan.

Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan berkenaan dengan penyakit TB :

  1. Berdasarkan data penelitian, dominasi penyakit TB menyerang usia produktif (15-49 tahun).
  2. Segera periksa ke dokter spesialis paru & pernapasan apabila ada 4 gejala pokok : batuk tidak sembuh-sembuh ≥ 2 minggu, batuk darah, sesak napas dan nyeri dada.
  3. Gejala lain yang menyertai : Demam yang tidak turun-turun, keringat malam, nafsu makan turun disertai penurunan berat badan.
  4. Selalu dijaga stamina tubuh, mengingat hampir setiap orang sudah terkena kuman TB. Kuman TB yang ada di tubuh kita, tidak akan aktif menyerang kalau ketahanan tubuh kita terjaga.
  5. Pola hidup sehat. Hindari kebiasaan buruk yang dapat mengganggu ketahanan tubuh seperti minum alkohol, merokok, kerja berlebihan. Waktu yang seimbang antara ibadah, kerja, olahraga dan istirahat.

Jadi penyakit TB laksana bom waktu, apabila tidak kita tangani dan antisipasi secara serius, penyakit TB bisa menjadi outbreak/wabah mengancam.