Learning Disabilities (LD)

Learning Disabilities (LD)

Oleh : Aventi Trisnia Cahya Ningrum, Terapis Okupasi

Sebelum membahas  learning disabilities (LD), mari simak contoh berikut ini : Aldo berusia 8 tahun. Dia tidak dapat membaca. Dia mengetahui huruf yang ditulisya, tetapi ketika diminta untuk membaca, dia membaca mundur, kehilangan baris teks yang dia baca, dan tidak dapat menemukan kata yang dimaksud dalam paragraf. Meskipun demikian, dia pintar dalam matematika, suka bermain atau menggambar suatu bangunan, jago dalam menggambar, dan memiliki perbendaharaan kata yang cukup baik. Jika dibandingkan dengan anak seusianya yang memiliki taraf intelegensi rata-rata, kemampuan membaca Aldo cukup buruk. Dari contoh ini dapat disimpulkan bahwa Aldo memiliki kesulitan/gangguan belajar dalam hal membaca.

Apa itu Learning Disabilities (LD)?

Terminologi spesifik dari “learning disabilities” menggambarkan suatu kelompok permasalahan yang mempengaruhi kemampuan anak dalam memahami tugas-tugas sekolah, mengolah informasi, dan berkomunikasi dengan efektif. Kesulitan atau gangguan ini seringkali ditandai oleh adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf intelegensi (IQ) seorang anak dengan kemampuan akademik yang seharusnya sudah dapat dicapai oleh anak seusianya. Selain itu, kesulitan ini seringkali dihubungkan dengan variasi dari masalah neurologi yang lain (misalnya, ADHD). Beberapa kondisi yang bisa termasuk di dalamnya yaitu gangguan persepsi, kesulitan belajar membaca (dyslexia), gangguan menulis (dysgraphia), dan kesulitan dalam matematika. Seperti pada kasus autisme, kondisi learning disabilities (LD) lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan dengan perbandingan  4:1.

Perilaku LD

Anak dengan LD mungkin dapat menunjukkan beberapa perilaku dari 9 kategori berikut:

  1. Gangguan dalam fungsi motorik : Termasuk ketrampilan motorik dan level aktivitasnya seperti sering gagal dalam aktivitas yang melibatkan ketrampilan motorik kasar atau motorik halus, kesulitan untuk merencanakan dan mengeksekusi hal yang baru (dyspraxia), gangguan keseimbangan, dan beberapa masalah pada area sensorimotor lainnya. Dalam hal ini, mungkin anak akan terlihat hiperaktif atau hipoaktif.
  2. Gangguan dalam pelajaran : Dapat terjadi pada 1 subjek akademik atau lebih. Hal ini berhubungan dengan ketrampilan anak pada saat menyalin tulisan dari papan tulis (sering tertinggal atau tidak selesai), menulis huruf tegak bersambung, mengorganisasi waktu dan materi, memahami instruksi secara tertulis ataupun secara lisan, bingung dengan simbol-simbol (misal <, >, ≤)
  3. Gangguan atensi dan konsentrasi : misalnya rentang atensi yang pendek dan mudah beralih, gelisah, impulsif
  4. Gangguan dalam berpikir dan memori: Kondisi ini sering dikarakteristikkan dengan kesulitan anak dalam berpikir secara abstrak (memberikan gambaran sebab-akibat, bentuk benda, dsb) dan kelemahan dalam memori jangka pendek ataupun jangka panjang
  5. Gangguan dalam bicara dan berkomunikasi: misalnya kesulitan dalam menggeser atau mengubah topik pembicaraan; kesulitan dalam mengurutkan kata, kalimat, atau suara; kesulitan dalam artikulasi
  6. Kesulitan pendengaran: Pada kondisi LD hal ini dihubungkan dengan masalah pada persepsi saat mendengarkan dan memori. Bukan pada masalah ketajaman pendengarannya (hearing). Anak dengan kondisi ini biasanya akan kesulitan untuk mengingat instruksi lisan meskipun baru saja disampaikan (memory auditory), tidak dapat memfokuskan pembicaraan pada saat situasi gaduh, dan kesulitan untuk mengingat urutan kata, suara, atau angka
  7. Gangguan sensori integrasi dan persepsi. Dalam kondisi ini anak biasanya kesulitan untuk memahami konsep lateral dan strata/bertingkat, dan kesulitan untuk mengerjakan tugas yang membutuhkan kemampuan persepsi visual (Hammil, 1990)
  8. Kesulitan dalam hal psikososial. Biasanya anak akan lebih sensitif, mudah marah, rendah diri, kurang percaya diri, dan atau menarik diri dari interaksi sosial.
  9. Kesulitan belajar (learning difficulties) yang spesifik menunjukkan adanya kondisi LD. Dalam hal ini yang paling sering terjadi adalah kesulitan untuk belajar membaca (Shapiro et al., 2002).

Kebanyakan anak dengan LD tetap memiliki beberapa karakteristik di atas hingga usia dewasa, meskipun sebagian besar mempunyai peran di dalam masyarakat. Peran okupasi terapis dalam program intervensi untuk anak LD dapat membantu memperbaiki perkembangan anak, namun hal ini tergantung pada sifat dasar dan tingkat gangguan yang terjadi. Pada anak usia pra sekolah sensori integrasi, permainan, dan sosialisasi dasar dan ketrampilan bantu diri dapat digunakan sebagai intervensi awal dan sebagai edukasi orang tua.

Pada anak usia sekolah, intervensi dengan sensori integrasi dapat dilanjutkan tetapi perlu tambahan program untuk mengembangkan ketrampilan dan peran sosial, integrasi perseptual motorik, dan ketrampilan menulis. Pada anak usia dewasa awal, fokus intervensi terletak pada ketrampilan untuk hidup mandiri, ketrampilan psikososial, dan perkembangan dari tehnik kompensasi dan adaptif untuk jangka panjang seperti bakat, minat, dan kebiasaan.

0 Komentar

PRESTASI

logo_paripurna_syariah_rsiy_pdhi-min

JADWAL DOKTER

No upcoming events for today

Agenda / Event