Covid Bukan Aib!

Pandemi Covid-19 yang kita hadapi saat ini bukan hanya suatu fenomena kesehatan. Disadari atau tidak, pandemi Covid-19 telah menjadi fenomena sosial. Banyak hal berkaitan dengan penanganan Covid-19 yang unsur sosial-nya relatif kental.

Di antaranya adalah suatu stigma negatif terhadap seseorang yang terdiagnosis Covid-19. Wujud konkret yang dapat ditemukan di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Penolakan sebagian masyarakat terhadap pemakaman jenazah pasien Covid-19 di lingkungannya.
  2. Pengucilan dari tetangga/keluarga bagi pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri/karantina mandiri di rumah.
  3. Pasien menolak dirawat di rumah sakit karena khawatir stigma dari tetangga sekitar jika kemudian dinyatakan suspek Covid-19.

Jika kita cermati, adanya stigma menjadi suatu faktor tersendiri yang sangat berpotensi menghambat penanganan pandemi Covid-19, khususnya di Indonesia.

Apa potensi kerugian akibat stigma negatif bagi pasien Covid-19?

Pasien yang seharusnya mendapatkan perawatan di rumah sakit namun kemudian menolak dikarenakan takut stigma sosial, dikhawatirkan kondisinya memberat, hingga kemungkinan terburuk.
Jika stigma Covid-19 semakin kental, maka orang yang terdiagnosis Covid-19 cenderung menutup-nutupi kondisinya. Tentu saja hal ini menjadi resiko bagi orang-orang di sekitarnya atau orang-orang yang kontak dengan pasien tersebut. Sedangkan jika pasien tersebut membuka kondisi dirinya -yaitu dia sebagai pasien positif Covid-19, maka masyarakat akan terbantu untuk membatasi penularan. Akan dilakukan tracing orang yang berpotensi tertular sehingga tidak terjadi penyebaran pada keluarga dan masyarakat sekitarnya.

Covid Bukan Aib!

Maka kita perlu menanamkan dalam diri kita bahwa sebenarnya Covid bukanlah aib. Covid-19 atas izin Allah Ta’ala dapat menimpa siapapun. Saat ini kita lihat bagaimana jumlah pasien covid yang terus bertambah dan penyebaran yang begitu masif, maka jangan lagi ada stigma negatif terhadap pasien covid.

Jangan sampai kemudian kita kehilangan ukhuwah atau persaudaraan, dengan menunjukkan sikap antipati dan diskriminatif terhadap saudara-saudara kita yang positif Covid-19. Justru kita harus saling membantu dalam menghadapi wabah ini.

Pahami Cara Penularan Covid-19

Stigma negatif terjadap pasien Covid-19 bisa jadi akibat kurang memahami penularan Covid-19. Covid menular melalui droplet atau aerosol yang masuk ke saluran napas atau mukosa mulut/mata baik secara langsung maupun tidak langsung. Penularan secara langsung misalnya menghirup droplet dari seseorang yang batuk dalam jarak dekat. Penularan tidak langsung terjadi ketika seseorang memegang benda yang terkontaminasi virus dan kemudian masuk ke tubuhnya melalui mulut, hidung, atau mukosa mata.

Maka jangan khawatir berlebihan jika ada tetangga positif Covid-19, meskipun rumahnya persis di samping kita. Jika kita tertib mengenakan masker, mencuci tangan setelah memegang benda milik umum, menjaga jarak > 1 meter, dan tidak berinteraksi dalam durasi yang lama, insyaAllah risiko penularan kecil.

Jangan pula khawatir jika ada jenazah pasien Covid-19 dimakamkan di lingkungan kita.

Maka marilah kita dukung penanganan wabah ini dengan menghapus stigma buruk terhadap pasien Covid-19. Justru kita dukung individunya untuk sembuh dan kita dukung proses tracing. Kita juga dukung rekomendasi karantina/isolasi dari petugas medis, termasuk bagi diri kita sendiri.

Covid bukan aib! Justru yang disayangkan adalah sikap sebagian orang yang mengabaikan rekomendasi para ahli. Di antaranya ialah protokol kesehatan, dan rekomendasi untuk isolasi atau karantina sesuai indikasi.

Semoga Allah Ta’ala selalu menjaga kita dan segera mengangkat wabah Covid-19 dari muka bumi. Aamiin.

Penulis : dr. Afif Azharul Firdaus (Satgas Covid-19 RS Islam Yogyakarta PDHI) dimuat di kesehatanmuslim.com

0 Komentar