Merapi Erupsi, RS Siap Terapkan HDP

Merapi Erupsi, RS Siap Terapkan HDP

Efek yang ditimbulkan dari bencana alam maupun buatan telah banyak kita lalui bersama. Pada dasawarsa terakhir terjadi gempa Aceh, gempa Bantul, letusan Merapi, tak terhitung pula kecelakaan lalu – lintas, kebakaran, terakhir puting beliung di Sleman, dan lain – lain. Korban jiwa yang tidak sedikit, dan kerusakan yang sangat merugikan telah kita alami bersama berulang kali. Tanggap darurat bencana yang sudah dicanangkan masih banyak menyisakan pekerjaan rumah dan kekurangan disana – sini. Benarlah kata – kata seorang sejarawan barat: “What we learn about history is, that people never really learn from history” (Apa yang kita pelajari dari sejarah adalah, orang – orang tidak pernah mau belajar dari sejarah).

Kesiapan rumah sakit dalam tanggap darurat bencana telah dikatakan sebagai salah satu poin penting dalam menentukan tingkat kematian dan kecacatan. Bila rumah sakit memiliki persiapan dalam penanganan bencana, maka dapat dipastikan tanggap darurat akan berlangsung dengan maksimal. Di Amerika misalnya, bila ada bencana alam, maka tanggap darurat akan langsung dilakukan, seluruh rumah sakit akan memberlakukan HDP (Hospital Disaster Plan) dan dalam hitungan menit mereka akan langsung menyulap tempat parkir menjadi rumah sakit lapangan, stadion menjadi barak pengungsian, dan armada ambulans udara, darat, dan laut siap tempur dengan seluruh personelnya. Di Amerika, fase pertama dari bencana adalah response, sedang di Indonesia kita akan mendapati fase pertama dari bencana adalah bingung dan nonton berita.

Mewujudkan RS Tanggap Bencana Melalui HDP

HDP bila dapat diwujudkan akan membawa perubahan yang signifikan terhadap tanggap darurat. Mewujudkannya sebenarnya tidak sulit, yang diperlukan sebenarnya hanyalah dua hal yaitu persiapan dan latihan.

Persiapan pertama adalah membuat tim yang akan membuat perencanaan HDP. Tim ini bertugas membuat panduan HDP rumah sakit yang terdiri atas: Pendahuluan, Tujuan, Definisi, Penentuan tingkat bencana, Tim Penanggulangan Bencana, Tusi Tim, Pemberlakuan Rencana, Pengakhiran Rencana, kembali ke keadaan sehari – hari, pelatihan, dan evaluasi.

Persiapan kedua; Menentukan struktur tim penanggulangan bencana rumah sakit. Struktur ini haruslah lain dari struktur asli rumah sakit, dibuat lebih simpel dan dapat diaktivasi maupun di non-aktifkan sesuai kebutuhan oleh dokter yang berjaga saat bencana terjadi dengan alarm bencana. Tim penanggulangan bencana RSI Yogyakarta PDHI cukup simpel. Dipimpin oleh seorang Insiden komando. Yang dibantu oleh 4 orang yang masing – masing menjadi koordinator: Logistik, Perencanaan, Keuangan, dan Operasional.

Persiapan ketiga; Melakukan sosialisasi HDP dan TUSI (Tugas dan Fungsi) kepada tim penanggulangan bencana. Perlu diingat bahwa TUSI masing – masing anggota tim sangat penting untuk dijelaskan dan sebaiknya tercantum dalam kartu tanda petugas masing – masing anggota tim penanggulangan bencana. Kartu tanda petugas ini diletakkan dalam ruang komando dan saat ada aktivasi alarm bencana, petugas terkait langsung mengambil dan melakukan tugas yang tertera di kartu tersebut.

Keempat, latihan dan revisi. Kesalahan yang sering terjadi pada HDP biasanya adalah terlalu lama membahas HDP tapi tidak segera melakukan latihan bencana. Kami sarankan untuk membuat HDP seminimal mungkin seperti petunjuk diatas, lalu melakukan latihan yang kontinyu. Kemudian dilakukan revisi HDP. Hal ini akan lebih mudah untuk dilakukan dan latihan aksi di lapangan lebih bisa menunjukkan kekurangan – kekurangan dalam HDP. Terlalu lama menunda latihan  dengan alasan ingin memperbaiki HDP sebaiknya tidak dilakukan, ingat kata – kata bijak “The best way to learn a language is to use it” (Cara terbaik untuk belajar suatu bahasa adalah dengan menggunakan bahasa itu sendiri).

Ditekankan bahwa HDP berbeda tergantung kemampuan masing – masing rumah sakit, tanpa latihan, kita akan menghabiskan waktu untuk melakukan analisa kemampuan, berapa bed yang tersedia, berapa persen kapasitas rawat inap rumah sakit dapat ditingkatkan, berapa SDM siap on-call, bagaimana evakuasi pasien, dan lain sebagainya, tetapi dengan mengadakan latihan, kita dapat sekaligus mengukur dan menilai kemampuan kita.

Penentuan Alarm Bencana Alam

Dalam penentuan alarm bencana, kami sarankan untuk membagi menjadi:

  1. Skenario ringan: Korban masal 5-20 rawat inap atau 20-70 rawat jalan (karambol, pesawat, KA, erupsi)
  2. Skenario sedang: Korban masal 20-50 rawat inap atau 70-200 rawat jalan (KA, pesawat, kebakaran, tanah longsor, erupsi)
  3. Skenario berat: Korban masal 150-250 rawat inap / 500-1000 rawat jalan (gempa, banjir, pesawat, kebakaran)
  4. Skenario sangat berat

Bencana sekarang harus kita hadapi dengan persiapan. Setelah fase persiapan, latihan, dan evaluasi yang terus – menerus kita lakukan, program pelatihan kita perluas dari lingkup rumah sakit menjadi masyarakat awam. Karena bagaimanapun juga, masyarakat, NGO (Non-Governmental Organization), bahkan ibu – ibu arisan PKK akan ikut serta dalam proses tanggap bencana. Keikutsertaan semua pihak tidak mungkin kita pungkiri. Maka pelatihan harus terus dilakukan untuk melatih non-medis sehingga dapat melakukan pertolongan pertama atau yang paling krusial, melakukan evakuasi korban dengan benar, sehingga P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) dapat dilakukan dengan benar, karena seringkali kita dapatkan yang terjadi malah KP3 (Kecelakaan Pada Pertolongan Pertama).

Ungkapan Nabi Muhammad SAW “Azilunaasa manazilahum” (tempatkanlah sesuatu pada tempatnya) sebaiknya kita aplikasikan dalam bentuk “siapa melakukan apa”. Siapapun bisa membantu meringankan / membantu saat bencana alam terjadi, tetapi dengan juknis yang jelas tanpa rangkap tugas. Satu insiden komando yang mengatur dengan 4 wakilnya, dan seluruh pihak dengan kemampuannya masing – masing. Security mrngamankan daerah triase, gizi dan masyarakat menyiapkan dapur umum, tenaga medis dan paramedis melakukan triase dan perawatan korban, driver membantu evakuasi, dan lain – lain.

Perlu disiapkan adanya penanganan korban meninggal, daerah dekontaminasi bila terjadi bencana nuklir, penggunaan radio telekomunikasi, dan keseluruhan persiapan lain yang sebaiknya dilakukan latihan bencana sehingga masalah dan kekurangan akan tampak lebih jelas untuk segera diperbaiki, sudah saatnya kita mempersiapkan HDP dengan metode learning by doing.

oleh: dr. Imam Manggalya A.

Sumber: republika

0 Komentar