Okupasi Terapi pada Kondisi Gangguan Belajar Anak

Okupasi Terapi pada Kondisi Gangguan Belajar Anak

 Oleh: David Agil K, Okupasi Terapis RSIY PDHI

 Learning Disability (Gangguan Belajar) adalah kondisi kronis yang diduga bersumber neurologis yang secara selektif mengganggu perkembangan integrasi dan/ atau kemampuan verbal dan/ atau non verbal, adanya kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik dan adanya kesenjangan antara prestasi dengan potensi. Faktor penyebabnya meliputi gangguan fungsi motorik,  gangguan perhatian dan konsentrasi, kesulitan dalam berbicara dan berkomunikasi, gangguan pendengaran, gangguan sensorik integrasi, gangguan persepsi dan gangguan psikososial.

Jenis gangguan belajar

Gangguan belajar ada 3 jenis, yang pertama adalah Disleksia (kesulitan dalam pemrosesan informasi bahasa), biasanya ditandai dengan tidak dapat mengucapkan irama kata kata secara benar, kesulitan mengurutkan huruf dalam kata, sulit mengeja secara benar atau suku kata, bingung membaca huruf yang mirip, membaca satu kata benar tetapi salah pada halaman lain, sulit memahami apa yang dibaca, terbalik dalam mengucapkan kata atau kalimat.

Gangguan belajar yang kedua adalah Diskalkulia (kesulitan dalam memproses informasi matematis) ciri yang nampak adalah biasanya memori visual baik, sulit melakukan hitungan matematis, sulit memahami konsep hitungan angka atau urutan, kadang mengalami disorientasi waktu dan arah, terhambat dalam menggunakan konsep abstrak tentang waktu, mengalami hambatan dalam belajar musik, serta mengalami kesulitan dalam aktivitas olahraga tertentu.

Gangguan belajar yang ketiga yaitu Disgrafia (kesulitan dalam aktifitas tulis menulis), cirri-cirinya yaitu tidak konsistennya bentuk huruf dalam tulisannya, penggunaan huruf besar dan kecil masih bercampur, ukuran dan bentuk huruf dalam tulisan tidak proposional, anak tampak berusaha keras saat mengkomunikasikan ide, pengetahuan, perasaan, dalam bentuk tulisan, sulit memegang alat tulis dengan benar, bicara pada diri sendiri saat menulis, terlalu memperhatikan tangannya saat menulis, tetap mengalami kesulitan meskipun hanya menyalin contoh tulisan, lupa mencantumkan huruf besar, lupa meletakkan titik dan tanda baca lain, hasil tulisan angka atau huruf kurang baik atau tidak stabil dan bingung menentukan tangan mana yang dipakai untuk menulis.

Keluhan Utama Gangguan belajar Anak

Keluhan utama pada anak gangguan belajar di usia sekolah biasanya berhubungan dengan prestasi sekolah, dan biasanya orang tua  ”tidak terima” jika guru melaporkan bahwa penyebab kemunduran prestasinya adalah kesulitan membaca/ matematis/ menulis. Kesulitan yang dikeluhkan meliputi kesulitan dalam berbicara dan kesulitan dalam membaca.

Terapi Anak dengan gangguan belajar

Okupasi Terapi adalah bentuk layanan kesehatan pada klien yang mengalami gangguan fisik/mental dengan menggunakan aktifitas bermakna (okupasi) untuk meningkatkan kemandirian klien, menyeimbangkan potensi dan peran (kemampuan kemandirian dalam kegiatan keseharian, kemampuan rawat diri, dan penggunaan waktu luangnya, termasuk mengasah motorik/sensorik juga kognitifnya). Terapi okupasi dikemas dengan permainan yang menarik dan pasti disukai oleh klien.

Okupasi Terapis biasanya bekerja dengan anak-anak dan orang dewasa yang mempunyai masalah pada motorik mendasar yang memberikan kontribusi untuk menyebabkan kesulitan akademis mereka. Okupasi Terapis berperan unik dalam pekerjaannya dengan klien yang mempunyai gangguan/kesulitan belajar. Treatment untuk gangguan belajar biasanya melibatkan banyak organ sensori, graded activity, bangun motivasi, variasikan media, dan remedial teaching.

Jenis terapi okupasi yang diberikan akan disesuaikan dengan usia, pekerjaan atau aktivitas sehari-hari, dan kebutuhan klien. Layanan terapi okupasi biasanya mencakup tiga hal. Pertama pada assesment awal,klien, keluarga klien, dan dokter akan menentukan apa yang ingin dicapai melalui terapi ini. Dokter juga akan menentukan diagnosis penyakit yang menyebabkan klien membutuhkan terapi okupasi. Kedua, akan ditentukan jenis terapi dan latihan yang sesuai kebutuhan klien. Fokus terapi dan latihan yang diberikan adalah untuk memampukan klien kembali beraktivitas secara mandiri. Ketiga, evaluasi dilakukan untuk memastikan bahwa hasil terapi okupasi sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan pada awal terapi. Evaluasi ini juga dibutuhkan untuk membuat rencana tindakan lain jika diperlukan, supaya hasil terapi dapat menjadi lebih baik.

0 Komentar