Anak Sakit di Era Pandemi, Kapan Perlu Dibawa ke Rumah Sakit?

Anak Sakit di Era Pandemi, Kapan Perlu Dibawa ke Rumah Sakit?

Oleh: dr. Sarastiti Alifaningdyah, dokter umum RSIY PDHI

Suatu hal yang wajar jika orang tua merasa panik saat buah hatinya sakit, sehingga ingin cepat-cepat diperiksakan ke dokter atau rumah sakit. Namun di tengah mewabahnya virus Covid 19, orang tua menjadi takut untuk memeriksakan anaknya ke rumah sakit. Di sisi lain, keterlambatan dalam penanganan anak yang sakit dapat membawa anak dalam kondisi kritis. Orang tua hendaknya dapat mengenali tanda-tanda gawat darurat pada anak yang sakit di mana anak wajib dibawa ke rumah sakit (UGD) untuk mendapatkan penanganan medis segera.

Kegawatdaruratan pada anak

Berdasarkan “ Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit ” dari WHO, kondisi gawat darurat pada anak dapat dikenali dengan konsep ABCD, yaitu Airway (saluran nafas), Breathing (usaha dalam bernafas), Circulation (aliran darah), Conscioussness (kesadaran) dan Dehydration (dehidrasi/ kehilangan cairan). Pada Airway, perlu diperhatikan apakah ada sumbatan pada jalan napas seperti adanya bunyi grok-grok atau anak jadi susah berbicara/ menangis. Pada bayi, sumbatan jalan napas biasa terjadi saat bayi gumoh/ muntah sehingga air susu terhirup dan menyumbat jalan napas.

Pada Breathing, perhatikan apakah anak sulit bernapas yang ditandai dengan napas menjadi sangat cepat (>50 kali per menit pada usia 2 s/d 12 bulan dan >40 kali per menit pada usia 1 s/d 6 tahun), warna tubuh menjadi biru, serta pada bayi terdapat tarikan dinding dada dan suara merintih. Kelainan pada Circulation ditandai dengan tangan atau kaki terasa dingin jika dipegang serta nadi yang teraba cepat, di mana hal tersebut dapat terjadi jika anak mengalami kehilangan cairan tubuh, baik disebabkan karena muntah yang banyak ataupun terjadi pendarahan.

Aspek Conscioussness dapat dinilai dengan melihat apakah anak dalam kondisi tidak sadar, kejang, atau gelisah. Yang terakhir adalah Dehydration, di mana sering terjadi pada anak yang terserang diare, ditandai dengan anak menjadi lemas dan malas minum, mata tampak cekung, kulit perut saat dicubit akan kembali lambat (>2 detik), serta ubun-ubun saat diraba terasa cekung.

Penanganan Anak Demam

Saat anak sakit, tentunya orang tua tidak ingin kondisi anak terlanjur memburuk seperti gejala gawat darurat tersebut. Oleh karena itu penanganan pertama di rumah perlu dilakukan, seperti pemberian obat penurun demam pada anak yang demam kurang dari tiga hari ataupun pemberian cairan oralit pada anak yang diare. Namun jika anak mengalami demam lebih dari dua hari, muntah atau diare hebat, maka orangtua perlu langsung membawa anak ke dokter ataupun rumah sakit. Orang tua juga perlu memiliki kotak P3K di rumah yang berisi obat obatan dasar seperti penurun demam, perban, obat antiseptik, oralit dsb.

Protokol Kesehatan di tengah Covid-19

Di tengah mewabahnya virus Covid 19, gejala flu yang dulunya merupakan hal yang biasa, sekarang menjadi sangat menakutkan. Sehingga untuk mencegah anak menjadi sakit, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) harus terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu orang tua juga perlu mencegah penularan Covid 19 pada anak dengan cara rajin mencuci tangan sebelum memegang anak, rutin memakai masker, menjaga jarak saat berada di tempat umum, dan membatasi membawa anak keluar rumah ataupun bertemu dengan orang lain kecuali untuk hal yang benar-benar penting dan tetap melaksanakan protokol kesehatan. Pendidikan terkait juga perlu dikenalkan dan diajarkan pada anak sesuai dengan tingkat pemahaman mereka agar mereka dapat mengerti arti menjaga kesehatan.

0 Komentar