Pengajian Karyawan, Implementasi Puasa Demi Terwujudnya Kesalehan Sosial

Semangat Ramadhan tampak saat para karyawan memadati Masjid Multazam RSIY PDHI untuk mengikuti majelis ilmu, pengajian Sabtu pagi (10/6). Pengajian karyawan yang bertema “Implementasi Ibadah Puasa dalam Menggapai Keshalihan Sosial” tersebut diisi oleh Ustadz H. Suyanto, S.Ag, M.Si.

Dalam pengajian tersebut, Ustadz Suyanto, yang kerap disapa Ustadz Kirun ini, mengapresiasi semangat kebersamaan di Bulan Ramadhan. Hal ini terlihat dari banyaknya pengajian yang diadakan di berbagai tempat, baik di masjid, kantor ataupun lembaga lainnya pada bulan Ramadhan. Artinya, semangat untuk melakukan ibadah secara bersama – sama.

Ustad Suyanto sedang berdoa

Menurut Ustadz Kirun, cara mengimplementasikan ibadah puasa agar terwujud keshalihan sosial dilakukan dengan empat cara. Pertama, kita harus menjaga agar puasa kita tidak batal. Hal-hal yang membatalkan puasa secara syar’i harus kita hindari. Sebab, batalnya puasa akan membatalkan ibadah itu sendiri. Bila ibadah telah batal, maka pahala juga tidak akan didapat. “Syarat pertama memperoleh pahala adalah tercapainya ibadah secara syar’i,” terangnya.

Kedua, menjaga batalnya pahala puasa. Menurut Ustadz Kirun, salah satu aspek penting agar terjaga pahala puasa adalah menjaga lisan. Lisan adalah perkara sepele yang bisa membatalkan pahala puasa. Sebab, terkadang lisan sangat mudah digunakan untuk menyakiti dan membicarakan orang lain. Bagi karyawan rumah sakit, menjaga lisan adalah dengan tidak menyakiti pasien. “Ajaran puasa bagi para pekerja rumah sakit adalah dengan melayani pasien dengan ramah dan baik,” katanya.

Karyawan RSIY PDHI sedang khusyu’ mendengarkan materi ceramah

Hal ini, menurutnya, karena puasa adalah amalan privasi, maka kita harus tampilkan dengan akhlak terpuji. Ustadz Kirun kemudian menceritakan kisah mengenai teman beliau yang asli Jepang, yang menurutnya, lebih Islamis (terpuji akhlaknya, red) ketimbang orang Islam sendiri. Orang Jepang yang berkunjung ke rumah beliau tersebut menolak makan kerupuk karena bila dimakan menimbulkan suara yang menurutnya tidak sopan. Ia juga tidak mau minum air kelapa karena di negaranya tidak ada.

Bukan hanya itu, bahkan tisu bekas kotorannya dimasukkan di dalam sakunya sendiri dengan alasan takut dapat menyebarkan kotoran dan penyakit  ke orang lain. Lalu, beliau membandingkannya dengan tamu beliau lain. Dimana tamu tersebut adalah seorang kiai berjenggot, tetap merokok di dalam rumah padahal jelas-jelas ada tulisan larangan merokok. “Lha ini yang atheis yang mana,” candanya. Kisah tamu beliau itu, katanya dapat dijadikan sebagai bahan muhasabah. Dimana sebagai seorang muslim, kita juga harus benar – benar berperilaku Islami.

Ustad Kirun, sapaan akrabnya, karena kocak dalam berdakwah

Oleh sebab itu, lanjut Ustadz Kirun, kita diharuskan untuk bisa menjaga lisan selama berpuasa dan menampilkan akhlak yang terpuji. Karena dakwah nabi yang pertama adalah menyebarkan salam. Artinya harus ramah dan rendah hati. Karyawan rumah sakit harus menjadikan semangat melayani sebagai ibadah di bulan suci. “Ramah dan rendah hati mengandung makna melayani dengan sepenuh hati,” jelasnya.

Cara ketiga untuk mengimplementasikan keshalehan sosial adalah dengan meningkatkan kualitas ibadah di Bulan Ramadhan. Ustadz Kirun menjelaskan bahwa ibadah itu jangan hanya puasa dan rajin tarawih di masjid saja, namun juga ditambahi dengan ibadah lain di malam hari. Yaitu, bangun di sepertiga malam untuk menegakkan shalat tahajud. Menurutnya, bangun malam untuk menegakkan shalat tahajud akan meningkatkan kualitas hidup kita, karena Allah berjanji akan mengangkat derajat orang-orang yang rajin bangun malam baik di dunia maupun di akhirat. “Saya ini dulu orang miskin dan sering diejek oleh teman-teman tidak bisa sukses,” kisahnya. Kebangkitan beliau berasal dari keyakinan dan doa pada Allah saat sepertiga malam tiba.

Keempat, melakukan zakat dan infaq. Zakat adalah wajib bagi setiap orang. Menurut ustadz Kirun, bila seseorang berpuasa namun tidak berzakat, maka amalan ibadah puasanya akan tertahan di langit dunia. Artinya, tidak akan diterima Allah atau tertahan. Sementara infaq adalah sedekah yang diberikan secara ikhlas kepada sesama. Di bulan Ramadhan ini, beliau menganjurkan agar memperbanyak sedekah karena pahalanya akan dilipat-lipat gandakan. “Konsep sedekah adalah memberilah maka akan diberi. Menolonglah maka akan ditolong,” terangnya.

0 Komentar

PRESTASI

logo_paripurna_syariah_rsiy_pdhi-min

JADWAL DOKTER

No upcoming events for today

Agenda / Event